Sabtu, 25 Juni 2016

Vaksin tak palsu di Biofarma

Ribut-ribut vaksin palsu, saya tidak khawatir, karena saya vaksin di Biofarma. Mengapa?

Saya sudah melakukan vaksinasi dewasa rutin sejak akhir tahun 80-an. Mulanya saya vaksin Hepatitis B yang masih langka dan kalau sekarang hanya cukup dengan Rp 50.000 saja, maka dahulu dengan uang nilai sekarang yaa di atas satu juta. Vaksinasi Hepatitis A juga saya lakukan dan lebih langka lagi serta lebih mahal lagi dibandingkan Hepatitis B. Penemuan terbaru adalah seseorang yang sudah pernah divaksin Hepatititis A atau B, apalagi pernah terjangkit dan kemudian sembuh tidak perlu divaksin secara rutin, tetapi jika khawatir bisa melakukan vaksinasi ulang di usia 50-an atau lebih. Pemeriksaan Anti HbS dan HbsAg sebelum divaksinasi juga tidak diperlukan, karena mahal dan lebih murah vaksinnya. Dahulu hal ini dilakukan, karena kalau kita telah memiliki antibody/penangkal alamiah, maka vaksinasi akan sia-sia dan harga vaksinnya masih mahal. Sekarang karena Vaksinasi Hepatitis B sudah murah, yaa disuntik saja langsung, toh tidak mengakibatkan apa-apa kalau sudah memiliki penangkal alamiah.

Vaksinasi Typhus juga saya lakukan, walaupun vaksinasi ini hanya melindungi sekitar 70 persen lebih, tetapi seseorang yang telah divaksin seandainya terjangkit Typhus, maka akan ringan saja penyakitnya. Perlu tindakan rutin Vaksinasi Typhus 3 tahun sekali. Saya melakukan vaksinasi ini di RS.

Mengingat vaksinasi di RS perlu antri, maka saya mencoba mencari distributor vaksin, misalnya produsen Aventis, distributornya siapa saja. Di distributor resmi harga vaksin didiskon 20 persen dan tentunya tidak palsu. Untuk menyuntiknya bisa minta bantuan perawat atau bidan dan kalau berani yaa nyuntik sendiri. Jika intarmuscular (im), maka nyuntiknya mudah yang penting jangan kena pembuluh darah. Biasanya yang disuntik adalah otot deltoid (lengan atas). Bisa dilakukan di kedua lengan dengan vaksin yang berbeda sekaligus. Yang agak sulit adalah subcutant (sc), walaupun disuntikkan secara im juga bisa, tetapi efektivitasnya agak berkurang.

Mengingat distributor vaksin ada di Jakarta dan jauh dari rumah, maka saya cari tempat yang melakukan vaksinasi di sekitar Bekasi. Terdapat Rumah Vaksin yang vaksinnya relatif lengkap. Tadinya saya pikir murah, ternyata tarifnya adalah HET (padahal sudah diberi diskon oleh distributor) + biaya dokter Rp 50.000. Apakah vaksinnya palsu, kelihatannya sih asli, karena saya selalu menyimpan dus dan suntikannya dari vaksinasi-vaksinasi terdahulu. Bagaimana kalau palsu, saya tidak khawatir, karena saya telah menemukan Biofarma.

Belakangan saya baru tahu, Biofarma juga melakukan vaksinasi dan tentunya murah dan asli. Biofarma selain memproduksi vaksinnya sendiri, ternyata juga importir vaksin tertentu, misalnya MMR II. Sayangnya Biofarma ada di Bandung, jadi kalau ke Bandung, maka sebelum naik jembatang layang Pasopati, minta turun, lalu jalan kaki sekitar 250 meter ke Biofarma (jangan naik angkot, karena angkot pasti belok kiri atau kanan ke Jalan Pasirkaliki). Letak tempat vaksinasi adalah menerobos melalui pintu kantin di samping mesjid yang besar. Dan tentunya vaksinasinya bukan di kantin, tetapi di ruang yang cukup besar dengan dokter/perawat yang faham betul tentang vaksinasi. Sekarang ini saya selalu melakukan vaksinasi di Biofarma.

Tambahan 15 Juli 2016: Menurut salah satu Direktur RS pemakai vaksin palsu, karena stock vaksin yang seharusnya dipakai tidak tersedia atau pasien minta vaksin buatan Luar Negeri, maka menggunakan vaksin dari penjual (bukan distributor) lain. Hal ini terbantahkan, karena setahu saya tidak pernah terjadi kekurangan vaksin, demikian juga apakah betul pasien minta divaksinasi dengan buatan Luar Negeri, siapa tahu ini memang keinginan dokternya, karena vaksin buatan Luar Negeri lebih mahal, bayangkan kalau anda divaksin Tetanus yang harga vaksinnya cuma Rp 14.000 buatan Biofarma terus dimintai biaya nyuntik Rp 50.000 apa gak teriak-teriak. Hal ini juga terjadi pada saat dokter memberikan obat paten yang mahal dimana harganya bisa 20x daripada obat generik. Bayangkan bila biaya dokternya Rp 150.000, sedangkan obat generiknya hanya Rp 4.500. Jika anda ke dokter di RS, maka ada baiknya beli seperempat dosis dulu dan sisanya beli di luar RS, siapa tahu ada generiknya dan di luar RS harganya juga biasanya lebih murah.

Jumat, 15 April 2016

Baja Ringan Anti Rayap Rawan Ambruk

Sekarang ini mulai banyak yang pakai rangka atap baja ringan, tetapi sebenarnya rawan ambruk, bukan karena rayap, tetapi karena kebakaran. Kebakaran sebentar saja, maka rangka atap baja ringan akan melentur dan ambruk semuanya. Saya pernah melihat rumah dengan rangka atap kayu kebakaran dan setelah setengah jam kebakaran dan apinya mati, karena disemprot air oleh pemadam kebakaran, maka yang terbakar hanya reng dan kaso, sedangkan gording luarnya terbakar, tetapi masih utuh dan kuda-kudanya tidak terpengaruh sama sekali. Api akan membakar kayu yang lebih lunak dulu, sedangkan kuda-kuda biasanya kayunya bagus dan besar. Jadi jika rangka atap kayu ada rayapnya tindakan apakah yang harus diambil?

Jangan khawatir rangka atap kayu akan ambruk tiba-tiba. Rayap akan memilih kayu yang lunak terlebih dahulu, biasanya reng dan kaso, jarang memakan gording apalagi kuda-kuda. Jadi biasanya genting akan melorot. Kerusakan tidak akan banyak dan cukup menggunakan anti rayap. Sejak tahun 1995 saya menggunakan anti rayap, ketika diketahui sekitar rumah saya banyak rayapnya. Dulu menggunakan Lentrek yang merupakan racun kontak yang artinya kontak dengan cairan anti rayap yaa berati rayapnya mati. Jeleknya Lentrek ini bersifat repellent atau menolak rayap, yaa rayapnya pasti tidak mau kontak, sehingga rayapnya terusir atau minggir, tetapi tetap hidup dan makan kayu yang tidak ada anti rayapnya. Sekarang ini hampir semua anti rayap bersifat non-repellent yang artinya rayap tak tahu itu anti rayap dan kayunya dimakan juga dan akhirnya mati.

Di dunia banyak digunakan anti rayap non-repellent Imidacloprid yang relatif cepat membunuh rayap. Yang lainnya adalah Fipronil yang relatif lambat membunuh rayap dan tentunya menguntungkan, karena seperti halnya semut, maka sesama rayap jika bertemu pasti 'ciuman' dan menularkan pada rekannya, bahkan ratunyapun disuapi makanan beracun. Ini akan membunuh seluruh koloni rayap.

Jika dana terbatas, maka anti rayap Prestise 200SL 80ml seharga Rp65.000 sudah cukup untuk membasahi seluruh rangka atap terutama ujung-ujung kayunya dengan semprotan bunga. Prestise 80ml dapat diencerkan hingga 40-80 liter air. Isi Prestise adalah Imidacloprid 200 gram/liter yang tentunya tidak ada 200 gram dalam 80ml.

Jika dana agak banyak bisa menggunakan Lentra 200SL 250ml seharga Rp170.000 yang cukup untuk membasahi seluruh rangka atap dan juga kusen-kusen serta pintu. Biasanya walaupun kusen ada rayapnya, sulit untuk mengetahui ada rayapnya, kecuali sudah parah. Ini salah satu jalur rayap menuju atap. Isi Prestise dan Lentra itu sama, jadi kalau perlu banyak gunakan saja Lentra atau bisa juga kombinasi keduanya.

Jika mau membunuh koloni rayap gunakan Agenda 25EC 1000ml seharga Rp365.000 yang hanya cukup untuk membasahi seluruh rangka atap, karena 1000ml Agenda 25EC ini hanya akan menghasilkan 40-80 liter cairan racun untuk disemprotkan, karena Agenda 25EC ini mengandung fipronil yang berkadar 25 gram/liter. Ketika Lentrek sudah discontinue, saya hanya menggunakan Agenda untuk menyemprot atap dan tanah. Penggunaan pada tanah sangat boros, jadi sekarang ini saya hanya menggunakan untuk menyemprot rangka atap saja. Toh rayapnya sudah tidak ada dan ini hanya untuk berjaga-jaga saja.

Untuk rumah dengan luas lantai dasar kurang dari 100 meter persegi tidak perlu panggil tukang rayap, cukup mentreatment tanah yang belum difloor dengan anti rayap. Menyemprot rangka atap itu melelahkan, jadi kalau mau santai cukup mentreatment tanahnya saja. tetapi tentunya boros. Buat lubang pada tanah dengan obeng berjarak 10 centimeter dari floor dan tiap lubang berjarak 20 centimeter, isi dengan anti rayap, kalau habis meresap, isi terus sampai jenuh. Jika hanya tanah yang ditreatment, maka sebaiknya gunakan Agenda. Treatment tanah ini bisa dilakukan sendiri dan tidak perlu terlalu kuatir dengan racunnya asal sudah diencerkan, bahkan Imidacloprid termasuk golongan Neonicotinoid (nikotin). Jauh lebih berbahaya merokok daripada mengaplikasikan anti rayap. Untuk rumah dengan lantai dasar lebih dari 100 meter persegi sebaiknya tanah di samping rumah yang menempel pada tembok kita perlu ditreatment juga, walaupun mungkin itu adalah tanah tetangga, beri pengertian pada tetangga bahwa hal ini juga berguna untuk rumahnya.

Perlu diketahui bahwa Fipronil dan Imidacloprid itu rawan cahaya. Bahkan Imidacloprid setelah diencerkan hanya dalam waktu 1-4 jam saja kekuatannya berkurang hingga separuhnya. Oleh karena itu botol Imidacloprid selalu tidak tembus cahaya. Di permukaan tanah Imidacloprid berkurang kekuatannya hingga separuh dalam waktu 39 hari. Tetapi di dalam tanah kedua bahan tersebut kekuatannya berkurang hingga separuhnya dalam waktu setahun atau lebih. Menggunakan kedua bahan tersebut dengan dosis dobel tentunya menyebabkan kita tak perlu tiap tahun menggunakan anti rayap. Untuk rumah dengan luas lantai dasar hingga 100 meter persegi cukup menggunakan sebotol Agenda seharga Rp365.000 untuk mentreatment tanah saja (di depan dan belakang rumah). Diaplikasikan tiap tahun untuk 2 tahun pertama dan seterusnya tiap 2 tahun sekali. M U R A H kan!!!

Rabu, 02 Maret 2016

Perlukah migrasi ke 4G-LTE

Setelah migrasi CDMA ke GSM dianggap berhasil, kini akan migrasi ke 4G-LTE. Yang sekarang sudah terdapat adalah 2G, 2.5G, 3G dan 3.5G. Dengan 3.5G-pun sebenarnya sudah bisa didapatkan up to 42Mbps, yang maksudnya maksimal 42Mbps secara total, tetapi seorang pemakai tentunya hanya mendapatkan di bawah itu tergantung banyaknya pemakai. Dengan 3.5Gpun sebenarnya sudah cepat jika kita mendapatkan sinyalnya. Konyolnya tidak di semua tempat kita mendapatkan sinyal 3.5G.

Secara teknis semakin rendah frekuensinya, maka akan semakin jauh pancarannya, sehingga diperlukan hanya sedikit menara BTS. Yang terbaik tentu saja Ceria dengan 450MHz. Pada umumnya 2G sampai dengan 3G menggunakan frekuensi 800MHz, 850MHz dan 900MHz, walaupun Flexi dulu pertama sekali pernah menggunakan frekuensi 1900MHz dan suaranya parah banget, juga menghabiskan baterai. Semakin tinggi frekuensinya, maka harus semakin rapat menara BTSnya. Jadi jangan berharap 4G-LTE akan ada, jika 3.5Gnyapun tidak ada, karena frekuensi 4G-LTE pada akhirnya hanya akan menggunakan frekuensi 1900MHz, 2100MHz, 2300MHz dan 2400MHz.

Sekarang ini penjual makin konyol, misalnya Bolt di Giant Jatiasih tidak dapat menunjukkan demonya, karena di tempat itu memang tidak ada sinyal 4Gnya. Demikian juga penjual Smartfren di depan Fresh Market Cikunir juga tidak dapat menunjukkan demo 4Gnya, karena sinyal SmartFren EVDO-RevBnya saja tidak ada. Di Bandung malah di Kantor Pusat SmartFren sendiri di Jalan Suci, sinyal EVDO-RevBnya juga tidak ada dan adanya sinyal baru di Dago yang berjarak 1.5 kilometer dari Kator Pusat SmartFren itu sendiri.

Jika sinyal 4Gnya tidak terdapat, secanggih apapun handpone kita, maka yang didapatkan hanya sinyal 3G. Jadi jika ingin membeli HP 4G-LTE, maka minta penjual menunjukkan demonya dengan HP 4G mereka. Pada HP tersebut akan tertera 4G, jika sinyal didapatkan di bagian belakang sinyal bar tersebut (bukan nama providernya, misalnya xxx 4G-LTE). Jika anda sudah yakin dengan penjual/produknya, maka HP 4G LTE tersebut boleh dibeli dengan catatan di rumah/kantor anda mungkin hanya didapatkan sinyal 3G, karena pindah kamar saja sinyal bisa langsung berubah. Demikian juga jika tetangga anda yang berjarak 100 meter dari rumah anda bisa mendapatkan sinyal 4G-LTE, bukan berarti anda juga akan bisa mendapatkan sinyal 4G-LTE tersebut. Yang paling tepat yakni meminjam HP 4G-LTE milik teman anda (masalahnya akan dipinjami tidak) dan mencobanya di tempat yang anda inginkan.

Kesimpulannya, 4G-LTE cocok hanya untuk mereka yang senang internet, boleh dikatakan tidak ada perbedaan untuk suara dan SMS dengan HP lama non 4G-LTE. Hampir semua HP seharga minimal sejuta sekarang ini telah dilengkapi fasilitas 4G-LTE, atau setidaknya belilah HP yang sudah dilengkapi dengan 4G-LTE, tetapi pikirkan dulu masak-masak jika ingin berlangganan 4G-LTE (jangan beli bundle, mungkin nanti akan menyesal dan tidak dapat ganti provider). Setidak-tidaknya berlangganan 4G-LTE lebih mahal dua kali lipat dari layanan biasa. Selama jumlah menara BTSnya tidak ditambah, maka layanan 4G-LTE tidak akan baik dan memiliki banyak sekali blankspot. Jarak menara BTSnya dengan anda maksimal 1 kilometer, jika lebih jangan berpikir untuk mendapatkan sinyal 4G-LTE. Yang paling baik sebenarnya provider menggunakan Micro-pole yakni tiang yang lebih besar sedikit daripada tiang listrik untuk meletakkan antena dan bukan menara BTS. Micro-pole dapat diletakkan di median jalan dan bisa berjarak hanya 200 meter satu sama lain atau paling jauh 500 meter. Di Bandung dulu pernah ada beberapa Micro-pole, tetapi sudah dibongkar, karena tidak meminta ijin terlebih dahulu dari walikota/pemda.

Bolt juga sudah 4G-LTE, tetapi tidak seperti provider telekomunikasi lainnya, kalau tidak didapatkan sinyal 4G-LTE, maka tidak akan didapatkan sinyal 3.5G, 3G dan 2G. Jadi sebaiknya lupakanlah Bolt. HP SmartFren dijual secara bundle berikut layanan 4G-LTEnya. HPnya memiliki satu slot untuk kartu SmartFren dan satu slot lainnya untuk provider GSM. Tetapi untuk menggunakan fasilitas provider GSM, maka kartu SmartFren harus aktif. Jadi jika fasilitas SmartFren tidak memuaskan, maka mungkin tidak ada pilihan lain selain membeli HP GSM 4G-LTE lainnya yang tidak dibundle dengan layanan 4G-LTE. Mengingat masih banyaknya blank spot layanan 4G-LTE dari tiap-tiap (semua) operator GSM, maka sebaiknya jangan sekali-sekali membeli HP 4G-LTE dengan sistem bundle berikut layanan 4G-LTEnya, supaya kita mudah berganti-ganti provider.

Tambahan 15 Maret 2016:
Di perbatasan Graha Indah dan Taman Permata Cikunir dekat Outer Ring Road ternyata sinyal XL yang didapat hanya 2G, tidak pernah 3G apalagi 3G+. Saya bawa modem dan kartunya ke XL Center di Pertokoan Bekasi Mas seberang Mitra Keluarga Bekasi Barat dan kartunya dicoba ke salah satu HP mereka dan didapatkan sinyal 3G+,  jadi bukan 4G. Di kartunya memang tertulis 4G-LTE (Hot Rod), tetapi mungkin ini hanya sekedar tulisan. Modemnya tidak dites, karena katanya mereka tidak bisa mengetes modem. Kemungkinan pertama banyak daerah di Bekasi hanya bisa menerima sinyal 2G, kemungkinan kedua kartu XL tersebut hanya bisa menerima sinyal 3G+ dengan menggunakan smartphone dan bukannya modem HSPA+ 21,6kbps. Dan jangan tertipu dengan kuota yang dijanjikan, 4,5GB maksudnya 1,5GB untuk 2G dan 2G ke atas, sedangkan 3GB lagi untuk 3G dan 3G ke atas. Jadi kalau hanya didapatkan sinyal 2G, maka kuota yang didapatkan hanya 1,5GB.

Tambahan 28 April 2016:
Kartu Simpati yang lama (cover plastik) tertera Best For Smartphone dan Speed up to 7,2 Mbps. Dimana-mana mendapat sinyal 3G+ dan ternyata telah diupgrade ke Speed up to 21,6Mbps seperti Kartu Simpati yang baru dimana memang tertera Speed up to 21,6 Mbps. Digunakan di Smartphone maupun modem sama kencangnya, bahkan untuk You tube mencapai 14350Kbps atau 14,35 Mbps, tetapi untuk website lokal apakah Detik com atau Vidio com kecepatannya di bawah 2 Mbps. Jelas yang bermasalah adalah website lokal ybs dan bukan kartunya. Jadi kalau tidak mau lihat Youtube apa perlu pakai 4G-LTE, apalagi dengan 3.75G Speed up to 21.6 Mbps, buka Youtube lancar-lancar saja. Kartu Perdana Simpati seharga Rp 40.000 untuk pemakaian maksimum 2 bulan dijual di Lobby BCP menggunakan lapak/meja dekat tangga berjalan dan bukannya di Gallerynya terdiri dari 2GB untuk 'ngalong' dari jam 24.00 hingga pukul 6.00 pagi dan 2GB lagi yang terbagi 1.5GB untuk pemakaian Nasional dan 0.5GB untuk pemakaian Lokal misalnya Jabodetabek (tertera di belakang bungkus nomor kartu). Jeleknya kuota Lokal baru bisa dipakai setelah kuota Nasional habis. Masa berlaku kartu perdana tersebut 60 hari, tetapi karena sudah diaktifkan terlebih dahulu, maka biasanya masa berlakunya berkurang seminggu. Di penjual pulsa, kartu perdana yang sama dijual seharga Rp 60.000 dan masa berlakunya malah cuma sebulan lebih sedikit, karena rupanya si penjual pulsa yaa beli di lapak Telkomsel, BCP. Untuk isi ulangnya dengan kuota yang sama harus membayar Rp 59.000 dan kuota Lokalnya tergantung dari di mana kita mengisi pulsanya misalnya Jabar. Jadi sebaiknya siapkan beberapa Kartu Perdana, karena akan lebih murah daripada isi ulang.

Kartu Three mungkin yang paling murah. Kartu Perdana Three 1Gb Rp 25.000 dan bisa memilih hingga 10GB yang harga per GBnya -/+ Rp 15.000. Masa pakai Three ini maksimal setahun, tetapi sinyal Three yang bisa didapat umumnya hanya 3G, bahkan banyak daerah yang hanya bisa menerima sinyal 2G. Jadi hampir sama dengan XL, hanya cepat di daerah-daerah tertentu, tetapi di kebanyakan daerah bahkan sama sekali sudah tidak bisa membuka website Detik com. Untuk isi ulangnya lebih murah Rp 5.000 daripada kartu Perdananya. Jadi untuk isi ulang 1GB cuma Rp 20.000,-

Tambahan 19 Juni 2016:
Saya menggunakan modem Huawei 3531 s/d 21.6 kbps, yang harganya sekarang di Enter Komputer Rp 225.000. Harga ini sama dengan modem Huawei 3131 s/d 21.6kbps, hanya saja modem Huawei 3531 lebih tipis, tetapi tidak memiliki colokan antena luar. Tidak ada masalah dengan performance modem Huawei 3531 saya, bahkan dengan kartu Telkomsel Simpati 4G LTE bisa didapatkan performa 40000bps saat mendownload Antivirus Avast, padahal modem ini bukan modem 4G LTE. Kesalnya modem Huawei ini selalu menampilkan iklan produknya, bahkan kadangkala berkali-kali hanya dalam satu sesi penggunaan, terutama ketika melihat YouTube.

Tambahan 16 Agustus 2016:
Indosat banting harga, katanya siih untuk menyambut 17 Agustus. 10GB 4G LTE plus 300MB 3G hanya Rp 25.000 dengan masa berlaku 30 hari. Sayangnya kuota 4G LTE dan 3G benar-benar dipisahkan, bukannya kuota 4G LTE habis baru pakai kuota 3G, tetapi di tempat dimana hanya terdapat sinyal 3G, maka pakai kuota 3G. Dan ternyata blankspot Indosat untuk 4G LTE banyak sekali, jadi kuota 3G sudah habis, tetapi kuota 4G LTE masih banyak, padahal kuota 4G LTE hanya dapat digunakan di daerah dimana ada sinyal 4G LTE. Mungkin ada baiknya pilih paket 9GB 3G saja seharga Rp 65.000 untuk 90 hari. Cuma perlu diingat kualitas 3G Indosat juga sebenarnya payah, hanya mampu download dengan kecepatan maksimum sebesar 2000bps dan sering drop mendekati nol atau bahkan nol. Untuk Youtube jelas tidak cocok. Cocok untuk buka web seperti detik.com, tetapi kapan yaa nanti habis kuotanya. Jika berminat Indosat lagi promo di Lobby BCP, sampai akhir bulan Agustus.

Tambahan 17 Agustus 2016:
Telkomsel tidak mau kalah dengan Indosat, maka di teras BCP, di samping Galeri Telkomsel atau hanya berjarak 15 meter dari tempat Indosat promo, Telkomsel juga promo. 4GB 4G LTE Rp 50.000,  6GB 4G LTE Rp 65.000,  dan 10GB 4G LTE Rp 100.000. Kesemuanya dengan masa aktif 60 hari. Sekarang sudah tidak ada Flash Midnight dan WiFinya lagi dan seperti Indost dimana kuota 3G dan 4G LTE dipisahkan, maka kedua kuota tersebut juga dipisahkan. Hebatnya sinyal Telkomsel komplit, selain 4G LTE, juga ada 3.75G, 3.5G, 3.25G dan tentunya 3G. Menggunakan Youtube tentunya tanpa putus-putus, walaupun menggunakan 3G, tetapi kecepatannya sudah mulai turun dibandingkan 2 atau 3 bulan yang lalu.

Tambahan 18 Agustus 2016:
Karena dari 6GB 4G LTE Telkomsel, hanya 1GB yang 3G, maka sisa 4G LTEnya masih banyak, walaupun kuota 3Gnya sudah habis dan tentunya kartu sudah tidak dapat digunakan di lokasi dimana tidak terdapat sinyal 4G LTE. Saya tanya Telkomsel dan Indosat apakah bisa kuota 4Gnya dirubah menjadi 3G dan ternyata tidak bisa. Jadi untuk amannya saya harus punya kartu 3G murni tanpa embel-embel 4G LTE, karena blankspot untuk 4G LTE masih sangat banyak. Simpati Loop 7GB 3G harganya Rp 50.000 dengan masa aktif 60 hari, tetapi kuotanya terbagi atas 2GB 24jam, 3GB jam 00-09 dan WiFi  2GB. Sedangkan Indosat 9GB 3G harganya Rp 60.000 dengan bonus kabel data yang konon dengan masa aktif 90 hari dan pembagian kuotanya 3GB 24 jam dan 6GB jam 00-06 saja. Pilihan lain adalah Indosat 9GB 3G untuk 24 jam seharga Rp 80.000, Saya beli Indosat pilihan pertama dengan harapan masa aktifnya benar (?) 90 hari, apalagi ada bonus 150 sms dan 150 menit telpon ke sesama Indosat (bonus ini tidak ada untuk pilihan kedua). Ternyata pulsanya Nol, jadi harus isi pulsa dulu dan masa aktif kartunya ternyata hanya sampai 12 Oktober saja. Jadi agar masa aktif 90 hari untuk data dapat digunakan, harus tambah pulsa yang banyak. Saya akan usahakan kuota data sudah habis, sebelum 12 Oktober. Kelak, tidak mustahil saya akan beralih ke Simpati Loop. Indosat akan berada di Lobby BCP hingga 17 September 2016, sedangkan Telkomsel kelihatannya sudah menetap terus di teras BCP. Perang kouta sudah dimulai, kalau Three yang terkenal murah menurunkan harganya, maka perang kuota akan semakin ramai..

Jumat, 01 Januari 2016

Jakarta Bandung PASTI Tidak Macet

Menjelang Natal 2015, pada tanggal 23 Desember pukul 7 malam mulailah kemacetan parah dan berlanjut hingga esok sorenya pada jurusan Jakarta Bandung via Tol Cikampek. Ada yang menempuh Jakarta - Bandung hingga 13 jam. Kemacetan yang melebihi kemacetan menjelang lebaran. Pada pukul 9 pagi tanggal 24 Desember kemacetan terjadi mulai dari Slipi hingga Kilometer 19 atau rest area pertama, siangnya tambah parah dengan kemacetan mulai Tomang hingga Kilometer 39 atau rest area kedua. Sedangkan Tol Jagorawi menuju Cawang, JORR menuju Tol Jakarta - Cikampek dan Tol Rawamangun - Cawang juga macet.

Sebenarnya hal ini bisa dihindari jika pengguna mobil yang kebanyakan memiliki smartphone mau membuka Google Maps traffic. Google Maps memanfaatkan smartphone kita untuk mengetahui lokasi kita dan tentunya kecepatan berkendara kita, jadi semakin banyak yang menggunakan Google Maps, maka akan semakin akuratlah perkiraan waktu yang akan kita tempuh. Google Maps tersedia pada desktop maupun pada smartphone. Kemacetan tidak dapat ditebak, jadi sebaiknya Google Maps dipakai tiap 15 menit atau 30 menit sekali dan tentunya sebelum kita pergi. Waktu tempuh yang diperkirakan Google Maps biasanya cukup akurat, karena datanya kan diupdate terus menerus.

Untuk memudahkan maka saya copy link untuk Semanggi, Jakarta ke Gedung Sate, Bandung:

https://www.google.com/maps/dir/Semanggi,+Jalan+Jendral+Gatot+Subroto,+Karet+Semanggi,+Jakarta,+Indonesia/mesjid+al

+muttaqin+gedung+sate,+Jalan+Diponegoro+No.22,+Bandung+Wetan,+Kota+Bandung,+Jawa+Barat+40115,+Indonesia/@-

6.5610413,107.2147165,10z/data=!4m8!4m7!1m2!1m1!1s0x2e69f15444f54583:0x3cf237eb8a93735d!1m2!1m1!

1s0x2e68e64c1fc9116b:0xcb6d730455fecfc1!3e0

Jika Tol Jakarta - Cikampek macet, maka ada alternatif jalan yang biasanya tidak macet, yakni melalui Jonggol:

https://www.google.com/maps/dir/Giant+Ekstra,+Jalan+Wibawa+Mukti+No.+2,+Jatiasih,+Jalan+Wibawa+Mukti+II,+Bekasi+Selatan,+Jawa+Barat+17423,+Indonesia/Gedung+Sate,+Jl.+Diponegoro+No.+22,+Bandung,+Jawa+Barat,+Indonesia/@-6.575577,107.2867316,11z/data=!4m8!4m7!1m2!1m1!1s0x2e698d80010581cb:0x30ac80d9d85bf83b!1m2!1m1!1s0x2e68e64c5e8866e5:0x37be7ac9d575f7ed!3e0

Jalan melalui Jonggol ini tidak selalu muncul di Google Maps, jika Tol Jakarta - Cikampek tidak macet.

Kamis, 28 Mei 2015

Hati-hati barang ditukar di Living Plaza

Hati-hati belanja Informa, karena mungkin sekali barang yang sudah anda pilih akan ditukar. Informa satu gedung dengan ACE Hardware di Living Plaza seberang Giant Mega Mal, Bekasi.

Saya belanja barang meja kursi dari besi, dan ternyata ada yang sudah berkarat dan tentunya tidak saya pilih, ketika saya suruh bawa ke kasir yang baik tentunya, petugas Informa yang bernama Sugi (tertera dalam bentuk post-it pada dusnya) mengatakan bahwa akan membereskan barangnya terlebih dahulu. Saya sudah curiga, apalagi ketika saya sudah menjauh, seseorang (mungkin supervisornya) membisikkan sesuatu pada Sugi. Jadi bisa saja Sugi disuruh oleh Supervisornya atau bisa juga oleh Floor Managernya.

Di Kasir saya lebih curiga, walaupun kasir yang bernama Varessya Risambessy mengatakan bahwa barang boleh ditukar dalam waktu 2 minggu. Dan satpam atau checker barang keluar berkali-kali melihat kondisi barang tersebut, jadi mungkin saja satpam tersebut juga sudah mengetahui ada barang ditukar. Saya tidak tahu prosedur ini apakah memang atas persetujuan atau justru atas briefing Manager Toko atau atas inisiatif perseorangan.

Di rumah jelas barang sudah ditukar dan bukan salah ambil barang. Ternyata mejanya adalah meja yang sudah saya apkir, tetapi karatnya sudah dibersihkan. Saya sudah katakan pada Sugi bahwa percuma karat dibersihkan, karena segera akan berkarat kembali.

Seandainya barang dapat ditukarpun, hal ini tentunya merepotkan, membuang bensin, biaya parkir dan terutama waktu yang berharga.

Setahu saya Informa (PT. Home Center Indonesia) dengan Ace Hardware (Kode BEI: ACES) masih satu grup/pemilik.

Asuransi, Unit Link, Tabungan atau BPJS

Asuransi, Unit Link, Tabungan atau BPJS, kesemuanya untuk mengamankan masa depan kita di masa yang akan datang.

Yang pasti Asuransi adalah pengalihan resiko di masa yang akan datang kepada asuransi. Asuransi tentunya tidak mau rugi, karenanya premi dihitung berdasarkan resiko, misalnya pengendara sepeda motor preminya lebih besar daripada pengendara mobil. Dan yang pasti asuransi tidak mau menanggung mereka yang jelas-jelas sudah sakit dan sebentar lagi mungkin mati dan menghabiskan biaya besar misalnya Penderita Kanker atau sudah terlalu tua. Untuk menghitung resiko dan menetapkan premi ada yang namanya Aktuaris. Di Indonesia aktuaris masih sangat sedikit dan di akhir tahun 1980-an bahkan ada iklan untuk belajar aktuaris di Australia, tentunya dengan ikatan dinas. Aktuaris ini kadang-kadang lebih hebat dari Dokter Spesialis sekalipun untuk mengambil kebijaksanaan, misalnya Aktuaris tahu, kalau pasien berusia 75 tahun ke atas dioperasi lututnya untuk penggantian tulang rawan, maka sebagian besar akan meninggal dalam 2 tahun mendatang dan memang operasi lututnya sendiri berhasil atau cukup berhasil, tetapi dokter Spesialis Orthopedi tidak punya data lengkap kapan mantan pasiennya meninggal, oleh karena itu selalu mengatakan kebanykan operasinya berhasil. Jadi kalau kita lebih beresiko daripada kebanyakan orang, maka ikut asuransi mungkin untung, sebaliknya kalau kita kurang beresiko, walaupun preminya mungkin lebih rendah, mungkin kita rugi, karena kita tak pernah klaim asuransi. Yang sering klaim asuransi itulah yang sebenarnya untung, karena dibiayai oleh mereka yang jarang atau tidak pernah klaim.

Terdapat 2 jenis asuransi, yakni asuransi berkala dangan endowment (bagian keuntungan) dan asuransi 1x bayar saja, misalnya asuransi jiwa, kecelakaan atau kematian. Asuransi dengan endowment akan memberikan sejumlah uang pada akhir periode asuransi. Sebenarnya ini adalah tabungan kita, karena sebagian premi asuransi memang ditabung atau diputarkan oleh perusahaan asuransi secara konservatif.

Yang lebih agresif daripada asuransi biasa adalah Unit Link, karena terdapat porsi yang besar dari asuransi diputarkan secara agresif, resikonya adalah bisa rugi seperti halnya berinvestasi. Sebenarnya hal ini kontradiktif, asuransi adalah mengurangi resiko, sedangkan investasi apalagi yang agresif adalah menambah resiko. Sebaiknya lebih baik ambil asuransi, jika memang diperlukan dan beli reksadana untuk investasi, karena reksadana banyak pilihannya dan mudah dijual kembali (redeem).

Karena saya selalu kontrol kesehatan secara berkala (tak perlu medical check-up secara menyeluruh) dan cenderung lebih sehat daripada orang-orang kebanyakan, maka saya memilih menabung. Besarnya tabungan bisa sebesar premi/bulan, tetapi perlu kedisiplinan. Jika sakit ambil saja uang dari tabungan ini. Hal ini jelas harus dilakukan oleh mereka yang tidak layak asuransi, misalnya penderita asma berat yang ditolak oleh asuransi. Jadi asuransi itu hanya mengcover orang-orang yang diperkirakan akan menguntungkan perusahaan asuransi.

Jika anda penderita kanker, sudah pasti tidak bisa ikut asuransi, tetapi bisa ikut BPJS. 50 persen lebih dari penderita kanker akan meninggal dalam kurun waktu lima tahun dan jika sudah berat, maka hanya 5 persen yang masih hidup setelah lewat satu tahun. Ada artis lawas penderita kanker yang mungkin keuangannya terbatas ikut BPJS setelah terdeteksi kanker dan menganjurkan Jupe yang juga penderita kanker untuk mengikuti jejaknya, tetapi Jupe tidak mau mengikuti cara ini dan lebih memilih menjual harta-hartanya. BPJS jelas cocok untuk orang miskin, tetapi mungkin tidak cocok untuk orang yang cukup berada, walaupun ada BPJS Kelas I. Dengan ikut BPJS, maka banyak prosedur yang harus diikuti, misalnya harus ke Puskesmas terlebih dahulu, diperiksa oleh Dokter Umum dan diobati, kalau tidak juga sembuh baru mungkin dirujuk ke Dokter Spesialis dan kita tidak bisa memilih Dokter Spesialis tersebut. Kita juga tidak dapat melakukan medical check-up, kalau tidak dirujuk. Jelas tidak nyaman dan banyak waktu yang terbuang. Jika anda bukan peserta asuransi dan bukan peserta BPJS dan harus masuk Rumah Sakit dan keuangan terbatas, maka bisa pilih Kelas III yang masih disubsidi silang dari Kelas I dan yang lebih atas. Pada Kelas II, boleh dikatakan tidak ada subsidi silang. Jika masuk Kelas I dan di atasnya, jelas mahal dan harus mensubsidi silang kelas III. Jangan hanya melihat tarif kamarnya saja, karena tarif tindakan dokter untuk tiap kelasnya berbeda demikian juga tarif kamar operasi dan tarif dokter yang mengoperasi juga berbeda. Demikian juga obat yang diberikan mungkin di Kelas III diberikan obat yang murah, sedangkan di Kelas yang lebih atas diberikan obat yang lebih mahal, padahal sama saja manfaatnya.

Tambahan 16 Maret 2016:
Mulai 1 April iuran BPJS meningkat/naik, karena pengelola BPJS tekor. Selama ini pemerintah menghimbau agar banyak orang mendaftar ke Kelas I, tetapi kebanyakan mendaftar ke Kelas III. Yang kaya daripada ikut BPJS lebih baik ikut asuransi kesehatan pihak swasta atau menyiapkan tabungan untuk keperluan kesehatan.

Kelas III semula Rp 25.500 menjadi Rp 30.000, naik 17,6 persen
Kelas II semula Rp 42.500 menjadi Rp 51.000, naik 20 persen
Kelas I semula Rp 59.500 menjadi Rp 80.000, naik 34,5 persen

Yang paling banyak naik adalah Kelas I dan saya duga peserta BPJS Kelas I akan stagnant atau bisa jadi malah berkurang. Karena perbedaan kelas pelayanan kesehatan baru terasa, kalau sudah rawat inap, sedangkan kalau belum, maka yaa harus ngantri bareng-bareng yang ikut BPJS Kelas III dan BPJS Kelas II, artinya (hampir) tidak ada perbedaan pelayanan.

Sabtu, 16 Mei 2015

Optical zoom + digital zoom 7.2x bagus

Banyak Kamera Fujifilm, selain memiliki optical zoom, juga digital zoom hingga 7.2x. Misalnya kamera saku Fujifilm T400/T410, seharga Rp 1 Juta yang memiliki optical zoom 10x dan digital zoom 7.2x. Pertanyaan yang sering timbul adalah apakah digital zoom itu bagus/baik, jawabannya yaa jika tidak menggunakan Full Resulotion. Hal ini dapat dibaca pada Wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/Digital_zoom Maksud dari tidak menggunakan Full Resolution adalah menggunakan resolusi yang lebih rendah, misalnya Full Resolutionnya adalah 16MP, maka untuk 3MP pemakaian digital zoom hingga 2.25x gambarnya masih bagus, sedangkan untuk VGA pemakaian digital zoom hingga 7.2x gambarnya masih baik, karena pada pengambilan gambar dengan digital zoom pada resolusi yang lebih kecil, kamera mengambil gambar yang di tengah-tengah saja, makanya gambarnya akan tetap sama dengan optical zoom.

Penjelasan foto: 2MP dari maksimal 16MP, optical zoom 10x dan digital zoom 7,2x (total 72x), ISO200, 1/500, F14.0, jam 9 pagi, dari jarak -/+ 60meter tanpa tripod memotret susunan glass block berukuran 160x60cm, masih jelas terlihat, bahkan retakan vertikal pada tembok (pinggir sebelah kanan) juga jelas terlihat, dengan sedikit sekali noise. Hanya membidiknya agak sulit, karena tanpa tripod, memotret 3 sampai 4x akan didapatkan satu hasil yang diinginkan, bukan karena gambarnya kabur, tetapi kebanyakan out of frame atau hanya terlihat sebagian. Foto di atas sama sekali tanpa cropping.

Untuk penayangan pada komputer, gambar VGA sudah memadai dan lebih disukai oleh users, karena tidak memberatkan web/download. Sayang Fujifilm T400 dan T410 tidak memiliki fasilitas pengambilan foto untuk VGA, tetapi dapat mengambil gambar video VGA. Resolusi terendah untuk berfoto adalah 2MP atau bisa menggunakan digital zoom tanpa mengurang kualitas gambar hingga 2.75x. Kamera Fujifilm T410 memiliki fasilitas Cropping dan Resize, pada playback dan ini sangat berguna mengingat resolusi terendah kamera tersebut adalah 2MP. Beberapa kamera tertentu memiliki fasilitas pengambilan gambar selain VGA, juga 1MP dan 1.3MP. Pada 1MP, maka menggunakan digital zoom tanpa mengurang kualitas gambar dapat dilakukan hingga 3.9x dan pada 1.3MP dengan menggunakan digital zoom tanpa mengurangi kualitas gambar dapat dilakukan hingga 3.4x. Selain Fujifilm, maka kamera-kamera merek lain biasanya hanya memiliki fasilitas digital zoom hingga 5x, 4x atau bahkan hanya 2x. Dengan 1MP, maka telah dapat dihasilkan gambar yang memadai untuk foto berukuran SuperPostcard 4R, sedangkan dengan 2MP, maka bisa didapatkan foto berukuran 5R dengan gambar yang bagus.

 Penjelasan foto: Full resolution 16MP resize to VGA untuk diupload. Tanpa tripod dan tanpa zoom, ISO200, 1/110, F8.4, jam 5 sore. Tampak di tengah foto terdapat matahari sore, gambar menjadi kurang baik (gelap), karena back-lighting. Disebelah kanan gedung yang tinggi terdapat dua gedung yang kecil dimana yang paling kanan lebih tinggi sedikit dari yang di tengah, karena terdapat papan nama gedung di atasnya, jaraknya sekitar 500 meter dari pemotret. Gedung yang paling kanan itulah yang akan dizoom.

 Penjelasan foto: Full resolution 16MP resize to VGA untuk diupload. Tanpa tripod dengan optical zoom 10x, ISO200, 1/110, F5.6, jam 5 sore. Tulisan pada papan nama gedung sudah mulai terlihat, walaupun samar-samar. karena masih cukup jauh.

Penjelasan foto: Full resolution 16MP resize to VGA untuk diupload. Tanpa tripod dengan optical zoom 10x dan digital zoom 7.2x atau total zoom 72x, ISO200, 1/160, F5.6, jam 5 sore. Tulisan pada papan nama gedung (detail) jelas terlihat, walaupun terdapat noise.

Fujifilm T400 digaransi resmi oleh Fujifilm Indonesia (sudah bukan oleh PT Modern lagi) di Gedung Koei Sudirman (sebelah Toyota), sedangkan Fujifilm T410 digaransi oleh distributor di Harco Mas Mangga Dua dan dikatakan Black Market oleh Fujifilm Indonesia. Sampai saat ini Fujifilm Indonesia tidak memiliki showroom atau tempat penjualan seperti Fujifilm Matraman dahulu. Jika ingin kamera yang lebih besar atau kamera prosumer, maka perlu dipertimbangkan kamera prosumer yang mirip kamera DSLR, tetapi lensanya tak dapat dilepas, misalnya Fujifilm S4200, S4300, S4400 dan S4500 yang masing-masing memliki jendela bidik Electronic View Finder (EVF) dengan Optical Zoom 24x, 26x, 28x dan 30x, tetapi digital zoomnya hanya 6.7x. Seperti halnya Fujifilm T400, maka kedua kamera tersebut saat ini sudah sulit dijumpai di pasaran. Yang masih bisa dijumpai di pasaran saat ini adalah Fujifilm S4600 dan S4800 yang keduanya justru tidak memiliki EVF. Saat ini sedang ada pameran di Mal Mangga Dua Ground Floor, hingga tanggal 24 Mei 2015 dan Fujifilm S4800 dijual seharga Rp 1.549.000. Bukan berati yang nomornya lebih tinggi itu lebih baik, misalnya Fujifilm T550 yang lebih baru memiliki optical zoom 12x, tetapi digital zoomnya hanya 2x dan harganya juga lebih murah dari Fujifilm T400. Sekarang ini Fujifilm sudah tidak meneruskan pembuatan Seri T lagi dan beralih ke Seri A dan J yang umumnya kualitasnya lebih rendah daripada Seri T.

Baterainya menggunakan Fujifilm NP45A 720mAH yang menurut saya terlalu kecil, apalagi jika sering merubah menu. Pada saat dicharge saya agak kaget, karena layarnya nyala terus dengan gambar diam baterai berpetir, sehingga saya berpikir, apa tidak terbakar layarnya kelak, rupanya ini untuk safety di AS. menurut bukunya layar akan padam kalau baterai sudah penuh dan kalau mau lebih penuh diamkan satu jam lagi baru dicabut.

Fujifilm T410 jelas untuk pasar Amerika Serikat, sehingga pada dosnyapun tertera Bonus at Walmart. Untungnya chargernya mengakomodasi 100-240V, karena di AS dan Jepang masih pakai 110V. Persoalan akan timbul jika chargernya rusak, karena USB Port pada kamera ukurannya beda sendiri, bukan micro USB seperti yang dipakai oleh Black Berry. Buku Basic Manualnya sangat sedikit memberikan informasi. CD ROM yang disertakan mencakup 32 bahasa termasuk Indonesia, ternyata ini hanya akses terhadap Web Fujifilm. Saya mencari di manual lib com dan ternyata isinya juga tidak bercerita banyak, sedangkan User Manual Casio Exilim EX-H50 bercerita sangat lengkap. Jadinya harus mencoba-coba sendiri, untungnya tidak terlalu sulit. Yang perlu diperhatikan bahwa kamera ini dapat diatur ISOnya pada Program AE dan untuk Panorama harus menggunakan modus Standard dan Wide (1x). Sayang untuk Panorama ini caranya masih kuno, yaitu dengan membidik 3x atau 2x dan bukan Sweep Panorama.

Karena menggunakan CCD sensor, maka jangan terlalu berharap banyak pada low light situation. Untuk hasil terbaik gunakan selalu flash yang dapat menjangkau dengan baik sampai jarak sekitar 3 meter. Dengan menggunakan flash, gunakan ISO 100 saja, karena dengan menggunakan ISO 800 sekalipun, hasilnya hampir sama. Shutter lag kamera ini termasuk lambat hampir 1 detik bahkan mungkin lebih pada saat gelap, tetapi focusnya tepat dan dual image stabilizationnya (high sensitivity ISO dan CCD shift image stabilization) cukup baik setidak-tidaknya untuk Optical Zoom 10x dan sampai batas maksimal digital zoom yang masih dikategorikan baik. Dengan menggunakan 1 cahaya lilin, ISO 800 dan tanpa blitz, maka bagian yang tercahayai lilin cukup jelas terlihat, tetapi bagian yang kurang tercahayai cahaya lilin boleh dikatakan gelap. Pada resolusi terendah 2MP, maka Digital Zoom hingga 2.75x (total 28x, karena kamera tersebut digital zoomnya selalu genap) menghasilkan foto yang bagus sesuai prediksi. Jika dicoba hingga 4x digital zoom, maka fotonya masih cukup baik, tetapi untuk membidiknya sudah mulai sulit. Pada digital zoom maksimal 7.2x, maka tanpa tripod diperlukan kerja keras untuk mendapatkan hasil foto yang baik, jika perlu gunakan ISO 800 untuk membekukan gambar, terutama pada sore hari.

Karena kamera Fujifilm T410 ini termasuk kecil ukurannya, seukuran BlackBerry, tetapi lebih tebal tentunya, maka lampu blitz sering tertutup jari dan pada saat ingin membuka tutup baterai/kartu SD Card yang terletak di bagian bawah kamera, maka tombol on/off kamera yang terletak di bagian atas kamera sering ikut terpencet. Tutup tersebut termasuk sulit dibuka, tetapi saya sudah mendapatkan caranya, yaitu di bagian sebelah kanan stiker yang tak berstiker masukkan saja kuku pada celah tutup dan geser untuk membuka tutupnya. Untuk mencegah agar dat tidak rusak, maka masukkan terlebih dahulu SD Cardnya baru baterainya dan jika ingin mengeluarkannya, kendorkan dulu baterainya dengan menggeser tuas kuning, baru mengeluarakan sd Cardnya. Layar LCDnya cukup terang dan jelas, serta pergantian antara satu menu dengan yang lainnya termasuk cepat. Kelemahan yang utama yaitu lambatnya shutter, seperti telah disebutkan di atas, karenanya tidak cocok untuk kamera sport/action. Tetapi untuk street photography di siang hari dan candid camera, maka kamera Fujifilm T410 dapat berfungsi dengan baik. Dengan 40x zoom, maka bisa didapatkan gambar full body dari jarak kurang lebih 30 meter dan yang dibidik biasanya tidak menyadarinya, karena kameranya kecil saja.

Sayang videonya, walaupun gambarnya bagus, fasilitas zoomnya hanya 2x digital zoom untuk QVGA (320x240) dan VGA (640x480) serta pada HD hanya 3x digital zoom, dimana dapat dilakukan zooming while filming dan tanpa suara cetek-cetek mencet zoom yang berarti dan suaranya tetap ada. Sedangkan pada mode optical zoom, masing-masing didapatkan 10x, tetapi tanpa suara pada saat melakukan zoom (suara tiba-tiba menghilang). Jadi zoomnya bukan gabungan, zoom sampai 72x hanya untuk pengambilan foto saja. HD ditulis 1280 yang agak menyesatkan, karena HD biasanya ditulis 720p (1280x720), sedangkan Full HD ditulis 1080p (1920x1080). Bagi yang ingin mengutamakan video saya anjurkan membeli handycam Full HD dengan digital zoom 8x saja dengan harga sekitar Rp 500.000, juga bisa mengambil foto hingga 5MP dan sudah cukup untuk dicetak sampai dengan ukuran 8R (8"x10"). Hanya saja pada ujung-ujung foto, gambarnya biasanya agak melengkung (distorsi), karena handycam lebih mengutamakan videonya, sedangkan Fujifilm T410 ini boleh dikatakan gambarnya tanpa distorsi. Movie filenya berekstension .AVI buatan Microsoft. Ini adalah file tanpa kompresi, tetapi harus dilihat melalui Windows. Cara paling murah untuk melihatnya pada TV LED adalah dengan merubahnya ke file non-AVI dan menggunakan Flashdisk, karena tidak semua TV LED mendukung AVI. Untung CD PC Mild 21/2008, punya file Free Zune Video Converter 1.0 sebesar 2.56MB (ZIP), sayangnya pilihan terbatas hanya mengconvert AVI ke WMV versi 2.0, MP4 (MPEG-4 dan H.264) dan MP3 audio. Karena file-file video ini adalah file kompresi, maka gambarnya tak akan sebagus AVI, sebagus apapun TVnya. Hasil terbaik dikonversi ke MP4 (MPEG-4).

Untuk foto indoor gunakan selalu flash dan ISO 100 atau 200 dan seboleh dapat tidak menggunakan zoom. Untuk foto di luar ruangan sampai optical zoom 10x, gunakan ISO 100. Untuk zoom 28x dan 40x gunakan ISO 400 atau 800, bahkan kalau perlu gunakan ISO 3200, agar didapatkan speed yang cepat dan gambar tidak goyang, walaupun tentu akan banyak noisenya. Pada saat fajar sebelum matahari terbit dan sore hari gunakan ISO 800. Kamera ini dari beberapa percobaan hampir selalu menggunakan f/3.4 dan f/5.6, sehingga backgroundnya selalu agak blur/bokeh (tergantung jarak focus). Pada mode Auto, kalau agak gelap ISOnya selalu lari ke 800.

Bagi mereka yang ingin membeli kamera, dan uangnya sedikit lebih longgar, maka kamera berjendela bidik akan sangat membantu dalam menstabilkan kamera dan juga mempermudah menemukan bidikan terutama pada saat menggunakan zoom. Tetapi sayangnya hampir semua kamera saku tak memiliki jendela bidik, kecuali yang berharga Rp 4 Jutaan. Kelemahan lain kamera saku adalah hampir semuanya tidak memiliki hotshoe untuk external flash.

Ternyata kamera Fujifilm T410 ini dapat juga HANG. Pada pemakaian menu yang intensif, kurang lebih 5 menit tanpa henti, maka kamera hang, baterai dicopot dan ternyata baterai panas. Pada baterai tertera suhu maksimum 60 derajat Celsius, tetapi menurut saya suhunya belum mencapai 60 derajat Celsius ketika hang, karena saya masih bisa memegangnya dengan santai. Didiamkan 3 menit dan masih hangat saya masukkan kembali baterai pada kamera dan ternyata kamera berjalan normal kembali. Pada buku Basic Manual untuk T400, T410, T350 dan T360 tercantum kamera akan panas pada penggunaan movie dan dianggap normal. Jadi sebenarnya Fujifilm mungkin sudah tahu bahwa kamera bisa hang, tetapi tidak disebutkannya. Baterai menjadi panas, karena pemakaian yang intensif tanpa jeda dan baterai kurang besar kapasitasnya, selain itu body kamera yang tampaknya seperti metal, ternyata adalah plastik. Oleh karena itu sebaiknya jempol kita seboleh dapat tidak menutupi tutup tempat baterai tersebut. Seri T ini disebut oleh Fujifilm sebagai 'stylish camera' yang tipis dan keren, tetapi bukan tanpa kelemahan. Jelas kamera ini bukan untuk diperkosa atau penggunaan berat dan karena kapasitas baterainya yang kecil, maka sebaiknya menyiapkan satu atau dua baterai cadangan. Menurut klaim Fujifilm satu baterai terisi penuh dapat memotret 160 foto. Hanya sayangnya baterai harus dicharge di dalam kamera. Pada focusnusantara com harga baterai Fujifilm NP45A adalah Rp 350.000, sedangkan di Amazon harganya $13 dan yang OEM $10, sedangkan travel chargernya adalah $17. Entah harga baterai yang buatan China.

Pada pemotretan outdoor yang sangat gelap, maka dengan ISO 3200 sekalipun speednya tidak pernah lebih lambat daripada 1/4, sehingga hasilnya yaa gelap, jadi rupanya kamera Fujifilm T410 ini lebih mengutamakan stabilisasi agar tidak goyang. Syarat paling mudah apakah sesuatu yang gelap/remang-remang dapat dipotret adalah tembok tersebut tercahayai, walaupun sedikit. Saya coba memotret teras yang memiliki lampu teras yang kecil dari jarak sekitar 15 meter dan zoom 10x, maka dari ISO 100 hingga ISO 3200, semuanya OK, tetapi hasil terbaik didapatkan dengan ISO 200. Tetapi jika ada orang di teras dan mukanya tidak tercahayai (backlighting), maka dapat dipastikan muka orang tersebut gelap.

Selain exposure compensation, kamera Fujifilm T410 ISOnya dapat diatur. Dengan ISO kita tetapkan, maka proses pemotretan dapat dipercepat, karena komputernya kamera akan segera menetapkan bukaan diafragma terbesar untuk keadaan yang agak gelap dan tinggal menetapkan speednya. Jadi adanya fasilitas pengaturan ISO akan sangat membantu, padahal kamera saku lainnya yang bahkan berharga hampir 2 Juta banyak yang tidak memiliki fasilitas ini. Setidak-tidaknya dengan fasilitas ini, walaupun cahaya terang, tetapi kita bisa menggunakan ISO yang cukup tinggi agar gambar tidak goyang terutama pada penggunaan zoom.

Di Indonesia resensi untuk kamera masih sangat kurang, tetapi untuk global dapat melihatnya pada amazon com yang saya nilai cukup obyektif, karena menampilkan yang berbintang 5 dan juga yang berbintang satu untuk kamera yang sama, sedangkan resensi dari mereka yang cari makan dari resensi tersebut mungkin keobyektifitasannya akan kurang. Ciri-cirinya situs atau blog mereka penuh dengan iklan. Setelah mendapatkan kamera yang cocok dari browsing, maka datangi penjual dan tawar sesuai harganya dari internet, biasanya penjual akan berusaha mengalihkan kita untuk membeli kamera yang memberikan untung lebih besar. Jangan terkecoh, penjual itu bukan malaikat. Ikut atau setidaknya membaca forum tentang kamera juga perlu, misalnya http://www.kamera-digital.com/forum/viewtopic.php?TopicID=13907&page=1

Pesaing
Nikon Coolpix S5300
Pesaing Fujifilm T410 saat ini adalah Nikon Coolpix S5300, seharga Rp 1.500.000 atau satu setengah kali harga Fujifilm T410. Kamera ini diluncurkan awal tahun 2014 dan setahun kemudian telah didiskontinue. Menurut Phothographyblog.com, Image Quality Nikon Coolpix S5300 mendapat nilai 4 dari 5, sedangkan Fujifilm T410 mendapat nilai 3 dari 5. Dimana keduanya cocok untuk street photography dan penggunaan sehari-hari.
Keunggulan dibandingkan Fujifilm T410 adalah:
* Menggunakan sensor CMOS yang lebih peka cahaya daripada CCD
* Lebih tipis, karena lensanya dapat sepenuhnya ditarik ke dalam body (lebih tipis 8mm).
* Full HD dengan MPEG-4, sehingga langsung dapat dilihat di TV LCD/LED.
* Menggunakan USB Standar yang memudahkan koneksi ke komputer atau Power Supply USB.
* Memiliki port HDMI Out untuk dapat dihubungkan langsung ke LCD/LED.
* Dapat mengambil gambar 3D.
* Memiliki WiFi untuk mempermudah sharing.
Kekurangan dibandingkan Fujifilm T410 adalah:
* Optical zoom hanya 8x, dengan digital zoom hanya 4x, sehingga total zoomnya 32x saja, sedangkan Fujifilm T410, total zoomnya 72x.
* f3.7-6.6, sedangkan Fujiflim T410 f3.4-5.6.
* Speed tercepat hanya 1/1500, sedangkan Fujifilm T410 1/2000

Nikon Coolpix S6700
Pesaing Fujifilm T410 saat ini mungkin Nikon Coolpix S6700 yang sama-sama memiliki 10x optical zoom seperti Fujifilm T410. Sensornya sudah 20.1MP, tetapi digital zoomnya hanya tetap 4x. Seperti halnya Nikon Coolpix S5300, menurut photographyblog.com untuk Image Qualitynya mendapat nilai 4 dari 5. Pertengahan Oktober 2015 atau 5 bulan setelah pertama kali tulisan ini diluncurkan, maka harga Nikon Coolpix S6700 adalah Rp 1.399.000. Tetapi saya tetap mengunggulkan Fujifilm T410, karena digital zoomnya hingga 7,2x. Masa depan dari kamera modern adalah pada kemampuan digital zoomnya.

Pentax Optio VS20
Pentax Optio VS 20 harganya kurang dari Rp 1.500.000 telah diluncurkan sejak 2011, tetapi hingga kini belum didiskontinue. Menurut Phothographyblog.com, Image Quality Pentax Optio VS20 sama dengan Fujifilm T410, yakni mendapat nilai 3 dari 5. Dan keduanya cocok untuk street photography dan penggunaan sehari-hari.
Keunggulan dibandingkan Fujifilm T410 adalah:
* Optical zoom 20x.
* Digital zoom 7.2x sama dengan Fujifilm T410, tetapi memiliki fasilitas SmartZoom untuk pengambilan foto dengan zoom 30x , 7MP dan zoom 144x, VGA 640x480.
* F3.1-4.8, sedangkan Fujiflim T410 f3.4-5.6.
* Speed tercepat 1/2500.
* ISO manual mulai 80.
* Memiliki dual shutter dan zoom lever yang sebenarnya kurang berguna untuk kamera yang kecil.
* Memiliki dua lubang tripod di atas dan di samping kamera, sehingga dapat juga mengambil foto portrait/tegak dengan menggunakan tripod.
* Memiliki digital horizontal level, sehingga kamera dapat dengan mudah disejajarkan dengan horizon.
Kekurangan dibandingkan Fujifilm T410 adalah:
* Lebih tebal 5mm dan tentunya juga menjadi lebih berat, tetapi berat berikut baterai masih kurang dari 200 gram.
* Menggunakan Compatibility AVI (Motion JPEG) yang kualitasnya lebih rendah dari AVI untuk dilihat pada komputer.

Kesimpulan:
Lensa Zoom bagaimanapun tidak sebagus fixed focus lens, semakin panjang zoomnya, semakin buruk hasilnya dan sulit untuk membidiknya. Total zoom (optical dan digital) zoom yang masih dapat dibidik dengan baik tanpa menggunakan tripod maksimum hanya 40x. Jadi jika jarang membidik burung atau hewan-hewan liar di kejauhan, maka superzoom atau zoom yang besar adalah percuma. Dalam penggunaan zoom, stabilisasi adalah sangat penting untuk menghasilkan gambar yang tidak goyang. Sayangnya hampir semua kamera saku/kompak tidak memiliki eye viewfinder (jendela bidik). Padahal jendela bidik yang didekatkan ke mata pada saat membidik dapat meminimalisasi goyangan. Kamera saku berjendela bidik (Electronic Eye Viewfinder) yang paling murah mungkin adalah Panasonic Lumix DMC-TZ70 yang di Amerika Serikat dikenal sebagai ZS50 seharga $398 dengan berat 243 gram, 110,6x64,3x34,4mm, 30x optical zoom, 12MP CMOS, Full HD.

Jika tidak berkeberatan dengan berat dan besarnya body dan ingin lebih serius memotret, tidak ada salahnya memilih Bridge Camera berjendela bidik( https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_bridge_cameras ). Bridge camera adalah kamera yang menjembatani antara kamera saku dengan kamera DSLR, dimana semua features DSLR ada pada Bridge camera, misalnya jendela bidik EVF, hotshoe, filter thread, PASM dial, RAW dan bahkan bridge camera memiliki features yang tidak dimiki oleh DSLR, misalnya macam-macam digital filter. Harganya terkadang lebih murah daripada kamera saku yang memiliki jendela bidik. Yang termurah dengan optical zoom 60x (20-1200mm) adalah Panasonic Lumix FZ70/FZ72 (606 gram, 130x97x118mm) seharga $250, 16MP CMOS, f/2.8-5.9, maksimum zoom 135x dengan 3MP, speed tercepat 1/2000, Full HD. Saat ini banyak professional yang menjadikan Bridge camera sebagai kamera kedua, setelah DSLR (bahkan ada yang menjadikan bridge camera sebagai kamera pertama, terutama untuk wild photography), karena kepraktisannya dan murah. Pada iklim tropis dimana banyak sinar matahari, maka hasil foto bridge camera boleh dikatakan hampir selalu bagus, walaupun DSLR camera dengan lensa-lensanya yang harganya bisa mencapai berpuluh-puluh kali lipat harga Bridge camera hasilnya tetap akan lebih baik. Tetapi dengan kepekaan sensor yang semakin meningkat, maka perbedaan kualitas foto antara Bridge camera dan DSLR camera akan terus semakin menyusut.

Tambahan 18 Juni 2015:
Sebaiknya jangan gunakan Micro SDHC dengan Adapter, karena sering timbul pesan Memory Card Error. Gunakan saja SDHC Card atau lebih baik lagi SDXC Card.

Tambahan 19 Juni 2015:
Walaupun mempunyai jendela bidik, tetapi untuk memotret burung yang sedang terbang dengan superzoom hampir mustahil, karena pada jendela bidik, burung akan melintas sangat cepat. Sampai saat ini hanya ada satu Bridge camera yang selain memiliki jendela bidik, juga memiliki fisir seperti pada senapan, sehingga disebut juga Eagle Eye, yakni Olympus Stylus SP-100 IHS 16 MP CMOS seharga $339 dengan optical zoom 50x (24-1200mm). Mengingat jangkauan maksimal zoomnya sama dengan Panasonic Lumix FZ70/72, maka kedua kamera tersebut harus dipertimbangkan. Menurut Photographyblog.com Panasonic Lumix FZ70 memiliki image quality yang lebih baik daripada Olympus Stylus SP-100 IHS, memiliki score 4 dan 3,5 dari 5. Bagaimanapun kedua kamera ini memiliki image quality yang lebih baik daripada kamera kompak Fujifilm T400 dengan score 3, walaupun semua kamera tersebut memiliki sensor berukuran kecil 1/2,3", hanya saja pada Bridge camera diameter lensanya lebih besar daripada pada kamera kompak, sehingga dapat mengantarkan sinar lebih banyak pada sensor.

Tambahan 23 Juni 2015:
Sesudah memotret, maka pada waktu display, gambar dapat diperbesar hingga 3x dan dapat digeser-geser ke atas-bawah-kiri-kanan, sehingga beberapa detail yang sebelumnya tidak terlihat sekarang menjadi lebih jelas terlihat. Sayang gambar pembesaran ini tidak dapat di Save. Tetapi setidaknya sebelum memotret dengan zoom sebesar 72x, kita dapat mengetahui apakah gambar tersebut layak dipotret dengan zoom 72x dan bagian mana yang perlu dizoom. Sebelumnya ambil dulu gambar dengan pembesaran 28x dengan 2MP, lalu lihat pada display dan lakukan pembesaran gambar. Save ternyata dapat dilakukan melalui Menu lalu Crop. Jadi sebenarnya kita dapat saja hanya memotret dengan zoom 28x atau 24x dan kemudian melakukan Crop, tanpa kesulitan membidik dengan zoom sebesar 72x.

Tambahan 24 Juni 2015:
Jika akan melakukan crop, maka pada saat membidik/memotret tidak perlu dipikirkan letak obyeknya ada di tengah frame apa tidak, yang penting sudah ada dalam frame, karena nantinya kan akan dicrop. Maka kesulitan membidik dengan total zoom 72x dapat dikurangi. Dengan menggunakan optical zoom 10x dan digital zoom 7,2x dan crop 3x, maka akan didapatkan pembesaran sebesar 216x atau setara dengan 216x28mm= 6048mm!!!

Tambahan 24 Juni 2015:
Jika gambar baterai telah bewarna merah, segera matikan kamera dan charge, jangan memaksa untuk menggunakannya, karena bisa hang, semua tombol tak dapat berfungsi. Jangan panik, diamkan satu-dua menit, tanpa menekan tombol apapun, kemudian coba matikan kamera dan biasanya berhasil.

Tambahan 11 Juli 2015:
Berhubung 2 kartu Micro SD V-Gen saya sering sekali 'Memory Card Error', maka saya akan tukarkan pada Cipta Mitra Solusindo (CMS) Harco Mangga Dua Lt-3, dekat Gunung Sahari. Saya dianjurkan ke Intact yang berjarak -/+ 20 meter dari CMS di lantai yang sama. Ini adalah distributor V-Gen. Sebelumnya saya telah membeli satu Micro SD Card dengan Adapter dan satu lagi Micro SD Card saja. Sejak pertama yang satu mudah masuk ke Adapternya, sedangkan yang satunya lagi seret. Menurut Intact itu karena sticker yang menempel pada Micro SD tersebut. Diganti Adapternya keduanya mudah masuk dan tidak bermasalah. Dugaan saya memang Adapternya tidak standar, apalagi kalau sampai stikernya juga tidak standard. Boleh jadi V-Gen mengimpor Micro SD Card tersebut dalam bentuk polosan dan diberi stiker maupun Adapter buatan Indonesia. Yang mungkin saja kualitasnya tidak baik. Setidak-tidaknya kualitas Quality Controlnya tidak memadai. Sampai saat ini CMS masih merupakan penjual asesoris komputer yang paling murah di Jakarta. Misalnya SD Card 8GB di CMS Rp 39.000, di Intact Rp 45.000 (wajar, karena distributor tak boleh menjual lebih murah daripada vendor menjual ke konsumen (suggested price)), tetapi di toko lain ditawarkan Rp 60.000 atau lebih dan jika kita tak tahu harga di CMS, maka jika terjadi transaksi pada Rp 50.000pun, sudah kemahalan. Ada baiknya mengecek harga secara online terlebih dahulu, sayangnya situs CMS harus login dulu. Sedangkan di Enter Komputer tidak perlu login dulu, tetapi harganya biasanya lebih mahal sedikit daripada di CMS.

Tambahan 31 Agustus 2015:
Jika tidak ingin merubah-rubah setting, maka sebaiknya setting saja pada ISO 800 dan jangan Auto. Dengan mengeset pada ISO 800, maka di tempat terang noise hampir tidak ada, shutter release juga cepat dan kemungkinan blur, karena menggunakan zoom hampir tidak ada. Di tempat gelap, maka ISO 800 akan menimbulkan noise yang dapat ditolerir dan setting ini sebaiknya tidak diubah, walaupun menggunakan flash sekalipun. Setting yang lain adalah gunakan selalu Full Resolution dan zoom optical hingga 10x mungkin sudah sangat memadai untuk berbagai keperluan, karena ada fasilitas Resize ke 5MP, 2MP dan VGA, demikian pula fasilitas Cropnya.

Tambahan 21 Januari 2016:
Kamera Fujifilm T410 memiliki speaker yang cukup sensitive, walaupun hanya lubang kecil di depan kamera. Kelemahannya bagi si pembidik, suaranya tidak begitu terdengar jelas, sedangkan yang dibidik suaranya akan terdengar jelas dengan catatan suaranya juga terdengar jelas oleh si pembidik. Kamera ini menangani suara derau cukup baik, tetapi konsekuensinya suara kita, jika tidak agak berteriak, maka akan terdengar lemah. Speaker pada kamera sangat lemah, bahkan hampir tak terdengar, tetapi jika didownload ke komputer suaranya jelas dan cukup baik. Pada mode Optical, maka pembesaran dapat dilakukan hingga 10x. Tiap kali tombol zoom dipencet, maka pada hasil rekaman akan terdengar suara klik yang sangat lemah, jadi boleh dikatakan tidak mengganggu. Karena tiap kali zoom artinya merubah frame, maka akan terdapat blur sepersekian detik, tetapi cukup cepat untuk mendapatkan fokusnya kembali. Image stabilisizernya cukup baik, walaupun tangan kita goyang-goyang dan tentunya gambarnya ikut goyang-goyang, tetapi gambar tetap tajam. Hasil videonya dengan menggunakan zoom maksimal 10x, boleh dikatakan memuaskan. Jika tidak keberatan dengan gambar yang goyang-goyang, karena tangan kita yang goyang, maka handheld tidak menjadi masalah, tetapi untuk hasil terbaik tentunya harus menggunakan tripod. Saya puas dengan hasil videonya, walaupun ini adalah kamera.

Tambahan 1 April 2016:
Kamera Fujifilm T400 terdapat di Lazada.co.id http://www.lazada.co.id/beli-kamera-pocket/fujifilm/?categorylink=1 seharga Rp 1.379.000 dengan bonus SD Card 8GB dan camera case.